AI sebagai Guru Kedua: Transformasi Pembelajaran Matematika

- Penulis Berita

Kamis, 6 Agustus 2026 - 12:04

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Jufri Ade, M.Pd (Akademisi UNUTARA, Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara)

Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 hanya 366 poin, anjlok 13 poin dari 379 pada 2018, dan tertinggal lebih dari 100 poin dari rerata negara-negara OECD. Indonesia bertengger di kisaran peringkat 69 dari 81 negara peserta. Yang lebih memprihatinkan, bila ditarik ke belakang, skor matematika pelajar kita belum pernah menembus angka 400 sepanjang dua dekade keikutsertaan dalam PISA sejak tahun 2000. Data OECD ini bukan sekadar statistik dingin; ia adalah cermin retak dari cara kita mengajarkan nalar berhitung kepada generasi muda.

Di saat yang hampir bersamaan, dunia bergerak dengan kecepatan berbeda. UNESCO dalam laporannya menyebutkan bahwa di negara-negara berpendapatan tinggi, lebih dari dua pertiga siswa sekolah menengah kini telah memanfaatkan perangkat kecerdasan buatan generatif untuk menunjang tugas sekolah, sementara guru-guru mereka mulai terbiasa menggunakan AI untuk menyusun materi ajar dan menilai pekerjaan siswa. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kecerdasan buatan akan masuk ke ruang kelas matematika Indonesia, melainkan seberapa siap kita menyambutnya dan seberapa bijak kita mengelolanya.

Ketika Angka Bertemu Algoritma

Matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran paling menakutkan bagi siswa Indonesia, dan data PISA memperkuat kegelisahan itu. Dari seluruh peserta ujian di Tanah Air, hanya sebagian kecil siswa yang mencapai level kecakapan numerasi minimum sesuai standar internasional. Kesenjangan ini semakin lebar bila dilihat dari sisi sosioekonomi: siswa dari kuintil sosial-ekonomi terbawah, yang jumlahnya mencapai lebih dari 40 persen partisipan Indonesia dalam PISA 2022, mencatatkan skor matematika jauh di bawah rekan-rekan mereka dari kelompok yang lebih mampu. Artinya, persoalan matematika kita bukan semata soal metode mengajar, tetapi juga soal keadilan akses terhadap pembelajaran berkualitas.

Di titik inilah kecerdasan buatan menawarkan harapan baru sebagai “guru kedua” — bukan pengganti guru manusia, melainkan pendamping yang hadir kapan saja siswa membutuhkan penjelasan ulang, latihan tambahan, atau umpan balik instan. Sistem pembelajaran adaptif berbasis AI mampu memetakan titik lemah pemahaman seorang siswa secara individual, kemudian menyesuaikan tingkat kesulitan soal secara dinamis. Seorang siswa yang kesulitan memahami konsep pecahan, misalnya, tidak perlu menunggu giliran bertanya di kelas yang berisi tiga puluh anak lain; ia bisa langsung berdialog dengan sistem yang menjelaskan konsep tersebut dengan berbagai pendekatan sampai benar-benar dipahami.

Keunggulan lain yang ditawarkan teknologi ini adalah kecepatan umpan balik. Dalam pembelajaran matematika konvensional, siswa sering kali baru mengetahui letak kesalahannya berhari-hari kemudian, saat guru selesai mengoreksi tumpukan lembar kerja. Padahal, dalam proses belajar bernalar, koreksi yang tertunda sering kali membuat kesalahan konsep terlanjur mengakar. AI memungkinkan koreksi seketika, sehingga siswa dapat langsung memperbaiki cara berpikirnya sebelum kesalahan itu menjadi kebiasaan.

Guru Tetap Pemegang Kendali

Namun, penting untuk menegaskan bahwa istilah “guru kedua” bukan berarti AI menggantikan peran guru sebagai pendidik utama. UNESCO secara tegas mengingatkan bahwa teknologi ini harus melengkapi, bukan menggantikan, dimensi manusia dan sosial dalam pembelajaran. Guru tetap memegang peran yang tidak tergantikan: menanamkan makna di balik rumus, membangun motivasi belajar, menumbuhkan rasa percaya diri siswa yang trauma dengan angka, serta mengajarkan keterampilan bernalar tingkat tinggi yang tidak bisa direduksi menjadi latihan soal berulang.

Justru di sinilah letak transformasi sesungguhnya. Ketika tugas-tugas rutin seperti pengoreksian jawaban, pembuatan soal latihan bertingkat, atau pemetaan kemajuan belajar tiap siswa dapat diambil alih oleh sistem AI, guru memperoleh ruang dan waktu lebih besar untuk hal-hal yang jauh lebih bernilai: berdiskusi, membimbing proses bernalar, dan menghadirkan konteks dunia nyata dari setiap konsep matematika yang diajarkan. Guru bertransformasi dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator berpikir kritis, sebuah peran yang justru semakin relevan di tengah dunia kerja masa depan yang menuntut kemampuan memecahkan masalah, bukan sekadar menghafal rumus.

Bayangkan Kelas Matematika Lima Tahun Lagi

Cobalah bayangkan sebuah kelas matematika di sebuah SMP negeri, lima tahun dari sekarang. Guru membuka pelajaran dengan memberi konteks: sebuah masalah nyata tentang perhitungan bunga tabungan atau proyeksi pertumbuhan penduduk desa. Setelah itu, setiap siswa membuka perangkat masing-masing dan berlatih dengan sistem AI yang telah menyesuaikan tingkat kesulitan soal berdasarkan rekam jejak belajarnya selama berminggu-minggu sebelumnya. Siswa yang masih kesulitan dengan konsep dasar aljabar akan diberi soal-soal penguatan dengan penjelasan berulang dalam berbagai cara, sementara siswa yang sudah menguasai konsep dasar akan diberi tantangan yang lebih kompleks agar tidak jenuh menunggu teman-temannya.

Sementara siswa berlatih, guru tidak berdiam diri di depan kelas. Ia berkeliling, melihat dasbor kemajuan setiap siswa yang disajikan sistem secara ringkas, lalu mendekati mereka yang menunjukkan tanda kebingungan berulang pada topik tertentu. Di sinilah sentuhan manusia menjadi krusial: seorang guru dapat membaca ekspresi frustrasi seorang anak, memahami bahwa masalahnya bukan pada kemampuan kognitif melainkan rasa cemas terhadap angka, lalu memberikan pendekatan yang jauh lebih personal daripada yang bisa dilakukan mesin mana pun. AI menangani skala dan pengulangan; guru menangani makna dan empati. Kombinasi inilah yang oleh banyak pakar pendidikan disebut sebagai model pembelajaran hibrida, dan yang tampaknya menjadi arah paling realistis bagi masa depan pendidikan matematika Indonesia.

Gambaran ini bukan fiksi ilmiah. Berbagai perangkat pembelajaran adaptif berbasis AI sudah mulai diadopsi di sejumlah sekolah dan lembaga bimbingan belajar di Indonesia, meski masih terbatas pada segmen tertentu. Tantangan besar kita adalah memastikan gambaran kelas seperti ini tidak hanya menjadi privilese sekolah-sekolah unggulan di kota besar, melainkan menjadi standar baru yang bisa dinikmati siswa di seluruh pelosok negeri.

Jurang yang Mengintai

Meski demikian, optimisme terhadap AI dalam pembelajaran matematika tidak boleh menutup mata dari risiko nyata yang membayangi, terutama bagi negara dengan kesenjangan infrastruktur sebesar Indonesia. Laporan UNESCO bertajuk “AI in Education: Promise and Perils” memberikan gambaran kontras yang tajam antarnegara: mayoritas sekolah di negara maju seperti Swedia telah menerapkan perangkat AI adaptif, sementara sebagian besar sekolah di negara berkembang bahkan belum memiliki infrastruktur internet memadai untuk menjalankan platform AI paling dasar sekalipun. Peringatan dari laporan tersebut layak kita renungkan: alih-alih menjadi pemerata kesempatan, AI justru berpotensi memperlebar jurang pendidikan apabila diterapkan tanpa memperhatikan kesiapan infrastruktur, kompetensi guru, dan relevansi kurikulum.

Bagi Indonesia, dengan sebaran geografis yang luas dan ketimpangan akses internet antara kota besar dan daerah tertinggal, ancaman ini bukan isapan jempol. Sekolah di pusat kota mungkin dapat segera mengadopsi platform pembelajaran matematika berbasis AI, tetapi sekolah di pelosok yang masih berjuang dengan listrik dan sinyal internet akan semakin tertinggal jika kebijakan digitalisasi pendidikan tidak dirancang secara inklusif. Survei UNESCO terhadap ratusan lembaga pendidikan juga menemukan bahwa hanya sebagian kecil sekolah dan universitas di dunia yang telah memiliki kerangka kerja resmi mengenai penggunaan AI, menandakan bahwa banyak institusi, termasuk di Indonesia, masih meraba-raba tanpa panduan yang jelas.

Ada pula kekhawatiran yang lebih mendasar: jangan sampai kehadiran AI justru melemahkan, bukan menguatkan, kemampuan bernalar siswa. Jika AI hanya digunakan sebagai mesin pemberi jawaban instan tanpa mendorong siswa memahami proses di baliknya, kita berisiko melahirkan generasi yang mahir menekan tombol tetapi lemah dalam berpikir matematis. Ironisnya, hal ini justru bertentangan dengan tujuan asesmen PISA sendiri, yang sejak edisi 2022 semakin menitikberatkan penilaian pada kemampuan bernalar matematis, bukan sekadar keterampilan berhitung mekanis.

Merancang Jalan ke Depan

Dari berbagai persoalan tersebut, ada beberapa langkah yang perlu segera ditempuh agar transformasi pembelajaran matematika berbasis AI benar-benar membawa manfaat, bukan justru memperdalam ketimpangan yang sudah ada.

Pertama, investasi pada kompetensi guru harus menjadi prioritas utama, bahkan mendahului investasi pada perangkat teknologi itu sendiri. Guru perlu dibekali pemahaman tentang cara memadukan AI ke dalam strategi pengajaran, bukan sekadar cara mengoperasikan aplikasi. Tanpa pelatihan yang memadai, teknologi secanggih apa pun hanya akan menjadi hiasan digital di ruang kelas.

Kedua, pemerintah perlu memastikan pemerataan infrastruktur digital sebagai prasyarat, bukan pelengkap, dari setiap kebijakan digitalisasi pendidikan. Program numerasi nasional yang tengah digalakkan pemerintah harus berjalan seiring dengan perluasan akses internet dan perangkat belajar hingga ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Ketiga, kurikulum matematika perlu dirancang ulang agar selaras dengan era AI, dengan menggeser penekanan dari hafalan prosedural menuju penalaran, pemodelan, dan pemecahan masalah kontekstual — kompetensi yang justru semakin dibutuhkan ketika kalkulasi rutin dapat diserahkan kepada mesin. Keempat, diperlukan kerangka etika penggunaan AI di sekolah yang jelas, mengatur batasan penggunaan, perlindungan data siswa, serta memastikan AI digunakan untuk memperkuat, bukan menggantikan, proses berpikir siswa.

Pelibatan pemangku kepentingan secara luas — mulai dari kementerian, dinas pendidikan daerah, perguruan tinggi kependidikan, hingga komunitas guru matematika — juga menjadi kunci agar kebijakan yang lahir benar-benar menjawab kebutuhan lapangan, bukan sekadar mengikuti tren teknologi global.

Penutup: Peluang di Tengah Stagnasi

Dua dekade stagnasi skor matematika PISA Indonesia semestinya menjadi alarm keras bagi kita semua. Namun, di tengah keprihatinan itu, kehadiran kecerdasan buatan membuka jendela peluang yang belum pernah kita miliki sebelumnya: kemampuan memberikan pembelajaran matematika yang benar-benar personal bagi jutaan siswa, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh guru manusia seorang diri di kelas yang padat.

Namun peluang ini hanya akan terwujud jika kita menempatkan AI pada posisinya yang tepat: sebagai guru kedua yang setia mendampingi, bukan guru utama yang menggantikan sentuhan manusia dalam mendidik. Transformasi pembelajaran matematika di era kecerdasan buatan bukan sekadar soal mengganti papan tulis dengan layar, melainkan soal keberanian kita merancang ulang cara belajar sehingga setiap anak Indonesia, dari kota besar hingga pelosok negeri, mendapatkan kesempatan yang sama untuk mencintai dan menguasai matematika. Jika kita gagal merancangnya dengan hati-hati, AI hanya akan menjadi kemewahan baru bagi yang sudah beruntung. Namun jika kita berhasil, ia bisa menjadi jembatan yang selama ini kita cari untuk keluar dari stagnasi dua dekade.

(Sumber data: OECD, Programme for International Student Assessment (PISA) 2022; UNESCO, Guidance for Generative AI in Education and Research (2023) dan laporan AI in Education: Promise and Perils (2025).

Berita Terkait

Ketua Umum PJI Hartanto Boechori: “Tutup Celah Penyalahgunaan Hukum! Bukan Tunda UU Perampasan Aset!”
Peran Sosiologi dalam Membaca Masyarakat Modern.
Reformasi Birokrasi dan Tantangan Agromaritim: Arah Baru Tata Kelola Pemerintahan Halmahera Selatan
Hukum Sebagai Harapan Terakhir: Refleksi Akhir Tahun atas Penegakan Hukum di Indonesia.
Hein Namotemo : Visi Lokal dalam Arus Perubahan
Kesadaran Hukum pada Lingkungan Hidup Sangat Penting, Akademisi UNSAN Bacan: Krisis Ekologi Butuh Tindakan Hukum yang Nyata.

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 17:22

Wajah Baru Desa Liaro, Genjot Pembangunan Fisik dan Reformasi Tata Kelola Pemerintahan

Kamis, 6 Agustus 2026 - 15:53

Bookfest Maluku Utara 2026 Resmi Digelar, Anggota DPR RI Beri Apresiasi Tinggi Bagi Penggerak Literasi.

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:37

Bacan United Siap Berbenah Pasca Ujian Mental di GOT XXVIII 2026 Lawan Pemain Liga 1, Coach Wahyudi Apresiasi Dukungan Alqassam Kasuba.

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:05

MC Ika Togale Apresiasi Pencatutan Siluet Penari Cakalele di Logo HUT Halsel ke-23.

Kamis, 7 Mei 2026 - 10:22

Peran Sosiologi dalam Membaca Masyarakat Modern.

Kamis, 2 April 2026 - 07:17

Mediasi Pemkab Halsel Berbuah Manis, Jalan Menuju TPA di Marabose Kembali Dibuka.

Minggu, 29 Maret 2026 - 12:06

Ika Togale Halsel Gelar Rapat Finalisasi Agenda Mubes, Peringatan Harlah ke 21 dan Rancangan Struktur Organisasi.

Sabtu, 21 Maret 2026 - 05:59

Guntur Efendi Ajak Umat Muslim Sucikan Hati, Rajut Persaudaraan dan Saling Memaafkan di Momentum Idul Fitri 1447 H.

Berita Terbaru