Alqassam Kasuba Sebut Indonesia Tak Kurang Pelatihan, Namun Butuh Kepastian Pasar, Singgung Integrasi Industri dan UMKM Lokal di Malut.

- Penulis Berita

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:16

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Izzuddin Alqassam Kasuba, Anggota DPR RI dapil Malut, Fraksi PKS. (Istimewa).

Izzuddin Alqassam Kasuba, Anggota DPR RI dapil Malut, Fraksi PKS. (Istimewa).

Malutinsight, — Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi PKS daerah pemilihan Maluku Utara, Izzuddin Alqassam Kasuba, yang akrab disapa Alqassam, menilai kebijakan pengembangan UMKM perlu mengubah titik berat dari sekedar memperbanyak pelatihan menjadi pelaku usaha memperoleh pasar, transaksi, dan kepastian usaha.

Pernyataan tersebut menanggapi temuan Kadin Indonesia Institute dalam Kadin Business Pulse Q2 2026 yang menunjukkan bahwa birokrasi menjadi salah satu persoalan terbesar dalam pengembangan bisnis dengan porsi 16,4 persen responden, mendisusul pengaruh kebijakan dan program pemerintah sebesar 14,8 persen. Untuk usaha kecil dan menengah, perkembangan pasar, terutama peluang memasuki pasar baru, menjadi perhatian penting. Sementara bagi usaha mikro, akses keuangan menjadi kendala utama dengan porsi 23,9 persen.

Menurut Alqassam, temuan tersebut menunjukkan bahwa permasalahan UMKM tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah program pemberdayaan.

“Indonesia tidak kekurangan program pelatihan UMKM. Yang sering kurang adalah kepastian bahwa setelah dibor, ada pasar yang menunggu produk mereka,” ujar Alqassam.

Ia menilai pelatihan, sertifikasi, digitalisasi, dan pembiayaan tetap dibutuhkan. Namun, seluruh instrumen tersebut harus diakhiri pada peningkatan kapasitas produksi dan kemampuan penjualan.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman sebelumnya juga menyatakan bahwa akses pasar menjadi salah satu tantangan utama pengembangan UMKM, bahkan pembiayaan tidak otomatis menjamin keberlangsungan usaha ketika produk tidak mampu terserap pasar.

Oleh karena itu, Alqassam mendorong pemerintah mengubah cara mengukur keberhasilan program UMKM.

“Jangan hanya menghitung berapa pelaku usaha yang ikut pelatihan. Hitung berapa yang mendapatkan pembeli, berapa omzetnya meningkat, berapa yang masuk rantai pasok industri, berapa yang masuk pengadaan pemerintah, dan berapa yang berhasil membuka pasar baru,” ujarnya.

Pasar Harus Diciptakan, Bukan Sekadar Dicari.

Alqassam mengatakan salah satu pendekatan yang perlu diperkuat adalah menciptakan keterhubungan antara UMKM dengan industri, pariwisata, ekonomi kreatif, pengadaan pemerintah, dan pasar ekspor.

Menurutnya, pemerintah memiliki instrumen yang jauh lebih besar untuk menciptakan permintaan dibandingkan sekadar meminta UMKM mencari pasar sendiri.

Industri membutuhkan makanan, logistik, jasa, transportasi, pakaian kerja, perawatan fasilitas, hingga berbagai kebutuhan operasional. Pariwisata membutuhkan kuliner, kriya, fesyen, suvenir, jasa kreatif, dan berbagai produk lokal. Pemerintah juga memiliki belanja pengadaan yang dapat menjadi pasar bagi usaha domestik.

“Kalau industri tumbuh tetapi kebutuhan industrinya masih terpenuhi dari luar daerah, UMKM lokal tetap menjadi penonton. Kalau pariwisata tumbuh tetapi produk yang dibeli wisatawan bukan produk masyarakat setempat, nilai tambah juga tidak sepenuhnya tinggal di daerah,” jelas Alqassam.

Maluku Utara Harus Menjadi Contoh

Alqassam menilai permasalahan tersebut sangat relevan dengan Maluku Utara yang sedang mengalami ekspansi kawasan industri dan investasi besar.

Kawasan industri seharusnya tidak hanya menghasilkan investasi, produksi, dan ekspor, tetapi juga menciptakan pasar bagi pengusaha lokal.

Oleh karena itu, ia mendorong adanya pemetaan terpadu antara kebutuhan industri dan kapasitas UMKM Maluku Utara.

Pemerintah, menurutnya, perlu mengetahui secara spesifik produk dan jasa apa yang dibutuhkan perusahaan, siapa pelaku usaha lokal yang mampu memasok, standar apa yang belum terpenuhi, serta dukungan apa yang diperlukan agar UMKM dapat menjadi pemasok.

“Target akhirnya bukan sekedar UMKM naik kelas di atas kertas. Targetnya adalah UMKM menjadi supplier, mendapatkan kontrak, meningkatkan omzet, merekrut tenaga kerja, dan ikut menikmati pertumbuhan ekonomi di daerahnya sendiri,” ujar Alqassam.

Ia juga meminta sinergi pusat dan daerah tidak berhenti pada koordinasi program. Sinkronisasi harus menghasilkan pembagian peran dan indikator dampak yang jelas, sehingga tidak terjadi tumpang tindih sementara kebutuhan pelatihan pasar justru belum terpetakan.

“UMKM tidak hidup dari banyaknya seremoni. UMKM hidup dari transaksi. Oleh karena itu, kebijakan UMKM harus semakin dekat dengan pasar,” tegas Alqassam.

Bagi Alqassam, keberhasilan kebijakan UMKM pada akhirnya sederhana untuk diukur:

Apakah usaha rakyat mendapatkan pasar yang lebih besar dan pendapatan yang lebih tinggi?

Jika penjelasannya belum, maka pekerjaan rumah pemerintah masih jauh dari selesai. (Tim).

Berita Terkait

Dorong Kemandirian Ekonomi, Kementerian UMKM Diminta Tak Cuma Stop di Pelatihan Perempuan Pengusaha Mikro.
“Pameran Pintu Masuk, Bukan Garis Finis”, Alqassam Kasuba Minta TEI 2026 Beri Dampak Riil ke UMKM
Tanggapi Dorongan Pengembangan Pariwisata Berkualitas, Alqassam: Jangan Sampai Budaya Dijual, Pemiliknya Tetap Miskin.
Aleg F-PKS Dapil Malut Dorong Komoditas Kelor dan Kenari Jadi Produk Ekraf Global Bernilai Tinggi
Alqassam Kasuba Soroti Akses Pasar UMKM, Dorong Masuk Rantai Industri.
Alqassam Kasuba Dorong Pemerintah Jadikan Keselamatan Standar Utama Pembangunan Pariwisata Nasional Termasuk di Malut.
Anggota DPR RI Alqassam Kasuba: Program Gastronomi Harus Angkat Kuliner Maluku Utara.
Dorong Hilirisasi Berdampak Nyata, Alqassam: Industri Malut Harus Sejahterakan Rakyat

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 03:40

Dorong Kemandirian Ekonomi, Kementerian UMKM Diminta Tak Cuma Stop di Pelatihan Perempuan Pengusaha Mikro.

Rabu, 21 Oktober 2026 - 08:14

“Pameran Pintu Masuk, Bukan Garis Finis”, Alqassam Kasuba Minta TEI 2026 Beri Dampak Riil ke UMKM

Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:39

Tanggapi Dorongan Pengembangan Pariwisata Berkualitas, Alqassam: Jangan Sampai Budaya Dijual, Pemiliknya Tetap Miskin.

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:03

Aleg F-PKS Dapil Malut Dorong Komoditas Kelor dan Kenari Jadi Produk Ekraf Global Bernilai Tinggi

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:35

Alqassam Kasuba Soroti Akses Pasar UMKM, Dorong Masuk Rantai Industri.

Rabu, 23 September 2026 - 07:06

Alqassam Kasuba Dorong Pemerintah Jadikan Keselamatan Standar Utama Pembangunan Pariwisata Nasional Termasuk di Malut.

Kamis, 17 September 2026 - 13:58

Anggota DPR RI Alqassam Kasuba: Program Gastronomi Harus Angkat Kuliner Maluku Utara.

Rabu, 16 September 2026 - 13:22

Dorong Hilirisasi Berdampak Nyata, Alqassam: Industri Malut Harus Sejahterakan Rakyat

Berita Terbaru